Pindad dalam Berita

back

Pindad Pacu Produksi Amunisi

INILAH, Bandung - Pada 2019 mendatang, PT Pindad bakal meningkatkan dua kali lipat kapasitas produksi amunisi. Seiring dengan lonjakan tersebut, industri pertahanan dalam negeri itu membutuhkan propelan lebih banyak.

"Tahun depan atau paling lambat awal 2020, Pindad akan meningkatkan kapasitas produksi maksimal sebanyak 4x90 juta butir. Dengan kapasitas 360 juta butir itu, kebutuhan propelan mencapai 500 ton," kata Direktur Teknologi dan Pengembangan Pindad Ade Bagdja saat Seminar Nasional Propelan di Bandung, Selasa (8/5).

Menurutnya, untuk kebutuhan bubuk mesiu itu rencananya pemerintah akan membangun pabrik propelan sendiri. Nantinya, bahan pendorong amunisi itu disuplai PT Dahana sebagai produsen propelan. Selama ini, seluruh kebutuhan propelan itu dipenuhi produk impor.

Ade menjelaskan, nantinya pabrik propelan yang dibangun itu memiliki kapasitas 400 ton. Artinya, total propelan yang dihasilkan itu terserap habis Pindad. Sisanya, 100 ton lagi kebutuhan propelan itu tetap dipenuhi produk impor.

"Propelan ini komponen startegis untuk pembuatan amunisi. Apalagi, kebutuhan amunisi TNI selama ini mencapai 300 juta butir. Kita baru bisa memenuhi setengahnya," ujarnya.

Sedangkan, Dirut PT Dahana Budi Antono mengakui pihaknya mendapat mandat dari pemerintah untuk memproduksi propelan. Untuk membikin propelan itu dibutuhkan senyawa utama nitroglycerin (NG) dan nitrocellulose (NC).

Sejauh ini, Dahana baru memiliki pabrik NG. Konsekuensinya, komponen NC masih diimpor dari luar negeri.
"Pembuatan pabrik propelan itu masih dalam tahap FS (feasibility study). Kita pun masih belum mengetahui nilai investasi yang akan ditanamkan, masih dihitung," sebutnya.

Sebagai produsen, Dahana menjalin nota kesepahaman. Isinya, Pindad sebagai offtaker propelan yang diproduksi. Rencananya, pabrik propelan itu dibangun di lahan milik Dahana.

Di Subang, lahan seluas 600 ha akan menjadi lokasi pabrik semua bahan peledak. Baik propelan maupun peledak komersil.
Sementara itu, Kabalitbang Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Anne Kusmayati mengatakan pihaknya memiliki kebijakan berupa roadmap terkait pembuatan propelan. Pada 2017 lalu, Kemenhan sudah membangun pabrik NG.

"Kita baru bisa membangun pabrik NG itu dikarenakan keterbatasan anggaran. Pada 2018-2020, kita akan membangun pabrik bubuk mesiu. Powder itu dibutuhkan untuk produksi amunisi kecil. Ini pun nantinya akan meningkatkan pembuatan amunisi kaliber besar," kata Anne.

Keberadaan pabrik propelan itu merupakan kebutuhan mendesak. Pasalnya, bubuk mesiu itu memiliki nilai strategis yang relatif tinggi. Bahan itulah yang menjadi pendorong untuk meluncurkan amunisi dan roket dalam sistem persenjataan.

Upaya pemerintah untuk membangun industri propelan di dalam negeri itu ditetapkan sebagai salah satu program prioritas di bidang pertahanan.

Oleh : Doni Ramdhani

Sumber: 


 


Top