Pindad dalam Berita

back

Pindad 'Meneropong' Pasar Industri Amunisi dan Senjata Global

Oleh : Dhiyan W Wibowo | Sabtu, 16 Desember 2017 - 10:21 WIB

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Demi memenuhi kebutuhan amunisi bagi angkatan bersenjata dan olah raga menembak nasional, PT Pindad (persero) menaikkan kapasitas produksi pabrik munisi kaliber kecilnya. Perusahaan trateis pelat merah ini juga siap measarkan hasil produksinya ke sejumlah negara sahabat.

Si vis pacem, para bellum. Sebuah adagium latin yang diartikan sebagai kalimat Jika Anda menginginkan perdamaian, maka bersiaplah untuk berperang.

Adagium yang merupakan adaptasi dari sebuah kalimat yang terdapat di Buku 3 De Re Militari hasil tulisan Publius Flavius Vegetius Renatus ini kerap dijadikan sebuah motto negara untuk terus memperkuat angkatan bersenjatanya.

Meskipun gagasan yang disampaikannya sebenarnya sudah muncul dalam karya-karya Plato, semisal yang berjudul Nomoi.

Gagasan untuk memastikan perdamaian dengan mengimbangi kekuatan perang melalui persenjataan ini makin menjadi sebuah langkah pragmatis sejumlah negara-negara kuat di abad 20.

Terlepas apakah semua negara termasuk Indonesia memilih menerapkan adagium yang sama, semua sepakat bahwa memperkuat angkatan bersenjata merupakan upaya penting untuk mencegah potensi adanya gangguan dari luar.

Salah satu upaya penguatan angkatan bersenjata tentunya tak terlepas dari pemenuhan kebutuhan amunisi bagi para serdadu. Sayangnya, Indonesia sejauh ini masih menggantungkan sebagian besar kebutuhan amunisinya dari produk impor.

Untuk amunisi kelas kaliber kecil saja, pemerintah lewat PT Pindad Persero baru mampu menyediakan 165 juta butir amunisi. Padahal kebutuhan amunisi Pemerintah Indonesia baik untuk kebutuhan militer dan kebutuhan munisi non-militer mencapai lebih dari 600 juta butir amunisi per tahun.

Untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan inilah, PT Pindad Persero selaku perusahaan pelat merah yang memproduksi persenjataan dan alat berat berencana melakukan perluasan pabrik untuk mendukung tercapai pemenuhan kebutuhan amunisi.

Disampaikan Direktur Utama PT Pindad Persero Abraham Mose beberapa waktu lalu, rencana perusahaan ini ditetapkan setelah mendapatkan suntikan dana berupa PMN (Penanaman Modal Negara) sebanyak Rp 700 miliar.

Dari kucuran dana tersebut sebesar Rp 400 miliar akan digunakan untuk membangun mesin untuk memproduksi amunisi kaliber kecil (MKK) serta perluasan pabrik baru Munisi Kaliber Kecil (MKK) di Divisi Munisi PT Pindad di Turen, Malang.

Sementara sisanya Rp 300 miliar akan digunakan untuk membangun lini mesin produksi munisi kaliber besar (MKB).

"PT. Pindad mendapatkan modal dari PNM sekitar Rp 700 miliar dimana Rp 400 miliar kita gunakan untuk pembangunan lini produksi untuk munisi kaliber kecil. Termasuk tadi untuk peletakan batu pertama. (Lalu) Rp 300 miliar kita bagi untuk pengembangan munisi kaliber besar," kata Abraham.

Perluasan akan dilakukan pada pabrik milik perseroan yang terletak di Turen, Malang Jawa Timur. Sejauh ini fasilitas produksi Pindad di Turen menghasilkan 165 juta butir munisi.

Dan dengan perluasan ditargetkan pada tahun depan sudah dapat mencapai 275 lebih per tahun.

Kapasitas PT. Pindad yang tadinya 165 juta butir pertahun akan naik jadi 275 juta butir pertahun," ujarnya.

Kapasitas produksi yang ditingkatkan tersebut sejatinya belum mampu menutupi kebutuhan untuk militer dan non-militer mencapai 3 kali dari target produksi.

Untuk kapasitas (kebutuhan) TNI, Polri, Olahraga belum cukup, serta Kementerian lain. Bisa dua atau tiga kali lebih banyak dari 275 juta per tahun, jadi sekitar 600 juta setahun," kata Abraham.

Dengan perluasan pabrik hingga 4.000 meter persegi, memungkinkan perseroan untuk memasukkan 40 mesin pembuat amunisi baru. Menurutnya, untuk mendukung direktorat teknologi pengembangan, pihaknya memang harus membeli mesin-mesin termasuk alat-alat simulator dan uji coba.

"Alhamdililah semua sudah berjalan. Diharapkan di akhir 2018 atau di awal 2019 sudah berproduksi," imbuhnya.

Selain perluasan pabrik amunisi baru untuk meningkatkan teknologi industri pertahanan dan kemampuan kapasitas produksi senjata dalam negeri, PT Pindad juga berupaya memperkuat hubungan dengan sejumlah perusahaan serupa di beberapa negara semisal Republik Ceko, Kanada.

Langkah ini sekaligus untuk mempromosikan produk baru perseroan.

"Kami lagi mengkaji untuk bekerjasama dengan negara sahabat, yakni Ceko, Kanada serta negara lain. Belum berjalan, karena masih menghitung bagi hasilnya," ujar Abraham.

Kerja sama ini diharapkan mampu menunjang peningkatan munisi kelas kecil serta kendaraan tempur atau tank milik TNI dan Polri.

PT Pindad belum lama ini juga memamerkan senapan khusus untuk penembak jitu (sniper) baru. Senapan bernama SPR 4 dengan kaliber 0,338 x 8,6 mm ini memiliki jarak jangkau tembakan hingga 1,5 kilometer.

Hadirnya SPR 4 menurut Abraham akan memenuhi kebutuhan akan senapan, khusus untuk sasaran jarak jauh. Sebelumnya telah diproduksi tipe yang sama yakni varian SPR 2 dan SPR 3, yang sejauh ini diperuntukkan bagi olahraga menembak dan pertahanan oleh TNI.

Senapan hasil produksi Pindad kini telah diakui oleh pasar angkatan bersenjata global, menyusul kemenangan berkali-kali oleh tim Angkatan Bersenjata RI di ajang Australian Army of Skill Arms at Meeting (AASAM).

Ini membuktikan keahlihan menembak begitu juga kecanggihan munisi serta senapannya patut diakui," ujar Abraham. Rencananya senapan jarak jauh terbaru Pindad ini akan segera diperlihatkan kepada Presiden Joko Widodo.

Bicara soal kinerja keuangan perseroan, Abraham optimistis tahun ini Pindad bisa meraup pendapatan sebesar Rp 2,9 triliun hingga Rp3 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan tahun lalu hanya Rp 2,3 triliun.

Perseroan yang pada tahun 2016 lalu berhasil mencatatkan kenaikan aset sebesar 2,32% menjadi Rp4,16 triliun ini, mampu mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 1000%.

Pada tahun buku 2016 laba bersih tercatat sebesar Rp45,79 miliar dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp4,16 miliar. Sementara itu pendapatan usaha naik sebesar 3,9% menjadi Rp2,02 triliun dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,94 triliun.

Sumber : http://www.industry.co.id/read/21526/pindad-meneropong-pasar-industri-amunisi-dan-senjata-global



Top