Pindad dalam Berita

back

Simak Cara Pindad Wujudkan Kemandirian di Industri Pertahanan

Liputan6.com, Bandung - Sekurangnya 170 peserta hadir pada acara Seminar Nasional Propelan yang diadakan PT Pindad (Persero) di Graha Pindad, Jalan Gatot Subroto, Bandung pada Rabu ini.

Ketua Panitia Seminar Nasional Propelan Yayat Ruyat mengatakan, propelan atau disebut juga bahan pendorong (bubuk mesiu) memiliki nilai strategis yang tinggi.

Saat ini, lanjut Yayat, propelan yang merupakan bahan untuk meluncurkan munisi dan roket dalam sistem persenjataan seluruhnya masih diimpor dari luar negeri.

"Negara kita juga pernah diembargo pada tahun 1998 hingga 2005. Pada saat itu kualitas dan kuantitas persenjataan dalam negeri kita terganggu," kata Yayat.

Dia menjelaskan, tujuan acara seminar ini yaitu untuk mentransferkan ilmu pembuatan propelan. Panitia menghadirkan pembicara dari empat negara yaitu Belgia, Australia, Afrika Selatan dan Prancis.

"Di hari kedua ini kita perlu tahu teknologinya. Dari Belgia ada Eurenco PB Clemont yang ahli dalam bidang propelan amunisi kecil, kalau dari Australia ada Thales Australian Munitions yang juga ahli amunisi kaliber kecil untuk jenis single base," ungkapnya.

Sedangkan propelan untuk amunisi besar dan roket didatangkan pembicara dari Rheinmetall Denel Munition (Afrika Selatan) dan Roxel (Prancis).

Adapun yang diundang dalam seminar kali ini berasal dari industri persenjataan, pemerintah, lembaga penelitian dan mahasiswa.

"Dari seminar ini kita ingin mengedukasi seluruh pihak bahwa teknologi propelan sangat diperlukan dan diharapkan mereka belajar dari teknologi dan perkembangan propelan," jelas Yayat.

Menurut Yayat, diharapkan dari seminar ini muncul diskusi-diskusi atau pemikiran untuk membangun kapabilitas nasional berkaitan dengan teknologi propelan.

"Jadi yang kita harapkan muncul pemikiran bahwa negara kita memerlukan teknologi propelan dan perlu mempercepat industri propelan," jelasnya.

Di antara kompleks area industri propelan yang ada di Indonesia saat ini, lanjut dia, baru membangun hanya satu pabrik nitrogliserin sebagai bahan baku propelan. Pabrik tersebut berada di Subang, Jawa Barat, milik PT Dahana.

"Pabrik nitroglisterin itu baru 10 persen dari total industri propelan yang dibutuhkan," ucapnya.

Lanjut Yayat, propelan termasuk satu dari tujuh program strategis Kementerian Pertahanan selain medium tank, roket, rudal, radar, kapal selam dan pesawat tempur. Di antara semua program strategis, produksi propelan cukup tertinggal.

Yayat menyebutkan, keuntungan memproduksi propelan adalah kemandirian dalam persenjataan.

"Pengalaman diembargo membuktikan kita belum mandiri. Sehingga dengan kita memiliki industri propelan kita akan mandiri, punya harga diri menjaga NKRI," harapnya.

Seminar propelan bertajuk "Application of Smokeless Powder Propellant in Ammunition and Rocket” ini digelar dalam rangkaian HUT Pindad ke-35 selama dua hari sejak 8 Mei 2018.

Sebelumnya atau pada hari pertama dibahas terkait kebijakan dan kondisi terkini industri dan penggunaan propelan di Indonesia, dengan pembicara kunci adalah Fajar Harry Sampurno sebagai Deputi Kementerian BUMN.

Dilanjutkan dengan diskusi dengan panelis, di antaranya Asrena Kasad, Dirjen Pothan Kemhan, Kabalitbang Kemhan, Dirtekbang Pindad dan Dirtekbang Dahana.

Reporter: Huyogo Simbolon


Top